in

TKA Dinilai Hanya Jadi Seremoni, Dewan Pendidikan Garut: Jika Hasilnya Tak Dipakai untuk Perbaikan, Lebih Baik Dihentikan!

Sekretaris Dewan Pendidikan Garut, Dedi Kurniawan menilai hasil Tes Kompetensi Akademik seharusnya menjadi dasar evaluasi guru, sekolah, kurikulum hingga kebijakan pendidikan nasional, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Garutexpo.com – Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Dedi Kurniawan, melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang dinilai belum memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Menurut Dedi, pelaksanaan TKA selama ini cenderung dipandang sebagai kegiatan rutin semata. Padahal, hasil yang diperoleh peserta didik seharusnya menjadi bahan evaluasi strategis bagi sekolah, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.

“Tes Kompetensi Akademik jangan hanya dianggap angin lalu. Untuk apa TKA dilaksanakan jika hasil kerja keras anak-anak pada akhirnya hanya menjadi tumpukan dokumen yang menambah volume sampah administrasi,” ujar Dedi kepada Garutexpo.com, Selasa, 14 Juli 2026.

Ia mengatakan, hingga kini belum melihat adanya upaya yang benar-benar serius dari berbagai jenjang pendidikan untuk menjadikan hasil TKA sebagai momentum evaluasi menyeluruh terhadap capaian pembelajaran di setiap satuan pendidikan.

Menurutnya, hasil TKA semestinya menjadi dasar dalam mengukur keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus mengevaluasi kinerja sekolah maupun para pemangku kebijakan di bidang pendidikan.

“Saya tidak melihat kesungguhan bahwa TKA dijadikan momentum penting untuk mengevaluasi sekolah maupun pejabat pendidikan berdasarkan capaian pembelajaran siswa. Padahal hasilnya seharusnya menjadi bahan evaluasi di tingkat lokal, regional bahkan nasional,” katanya.

Dedi menegaskan, hasil TKA seharusnya tidak berhenti pada angka-angka statistik. Lebih dari itu, data tersebut harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, seperti peningkatan kompetensi guru, penyempurnaan metode pembelajaran, perbaikan kurikulum, hingga peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

“Hasil TKA harus menjadi catatan strategis untuk memperbaiki proses kegiatan belajar mengajar, meningkatkan kompetensi guru, sekaligus memperbaiki fasilitas pendidikan. Kalau hanya dianggap bagian dari rutinitas KBM, tentu manfaatnya tidak akan terasa,” ujarnya.

Ia bahkan menilai, apabila hasil TKA tidak pernah dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan, pelaksanaannya justru berpotensi menjadi pemborosan anggaran.

“Kalau TKA hanya dipandang sebagai rutinitas tahunan, lebih baik tidak perlu diadakan karena hanya menghabiskan biaya. Tetapi jika hasilnya benar-benar dijadikan rumusan kebijakan di tingkat satuan pendidikan, daerah hingga nasional, maka TKA harus dipertahankan bahkan terus disempurnakan metode evaluasinya,” tegasnya.

Dedi juga mempertanyakan sejauh mana pemerintah memanfaatkan hasil TKA sebagai bahan penyempurnaan kurikulum dan arah kebijakan pendidikan di masa mendatang.

“Kita belum melihat adanya rilis atau laporan yang benar-benar menunjukkan keseriusan pemerintah dari tingkat lokal sampai nasional dalam menjadikan hasil TKA sebagai catatan strategis untuk memperbaiki kurikulum maupun sistem pendidikan ke depan,” katanya.

Lebih jauh, Dedi mengingatkan agar dunia pendidikan tidak terjebak pada budaya membuat program yang bersifat seremonial tanpa memiliki orientasi jangka panjang.

“Jangan sampai kita hanya pandai membuat program-program seremonial tanpa memahami arah dan tujuan akhirnya. TKA itu bukan tujuan pendidikan, melainkan salah satu metodologi evaluasi dalam pendidikan. Yang paling penting adalah bagaimana hasil evaluasi tersebut mampu melahirkan kebijakan yang meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Dedi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah cara pandang dalam mengelola dunia pendidikan.

“Mari kita sadar bahwa mengelola pendidikan bukan hanya membangun gedung atau infrastruktur fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas mental, karakter, spiritual, dan kompetensi generasi penerus bangsa. Itulah hakikat pembangunan pendidikan yang sesungguhnya,” tandasnya.***

Ditulis oleh Kang Zey

Nasib Guru PPPK Lulus BCKS Masih Menggantung, PGPPPK Garut Minta DPRD Turun Tangan Fasilitasi Audiensi: Ratusan Sekolah Masih Dipimpin Plt