in

TKI Garut Terlantar di Malaysia, Pulang Tak Punya Ongkos; Disnakertrans Bergerak Cepat

Foto: Elvia Istri Yana yang terlantar di Malaysia.

Garutexpo.com — Harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di negeri orang justru berujung nestapa. Yana (38), warga Kabupaten Garut, kini terjebak dalam kondisi memprihatinkan di Malaysia dan sangat berharap bisa segera pulang ke tanah air.

Yana bersama sejumlah warga Garut lainnya berangkat ke Malaysia dengan harapan bekerja di perkebunan sawit. Mereka dijanjikan penghasilan hingga sekitar Rp10 juta per bulan. Namun, kenyataan yang dihadapi jauh berbeda dari harapan.

Mereka diduga berangkat melalui jalur ilegal untuk bekerja di perkebunan sawit. Persoalan muncul ketika pekerjaan dan penghasilan yang diterima tidak sesuai dengan yang sebelumnya dijanjikan.

Dalam kondisi tertentu, Yana dan rekannya bahkan disebut mengalami kesulitan mendapatkan makanan. Perbekalan yang terbatas membuat mereka terpaksa bertahan dengan makanan seadanya.

Ironisnya, ketika ingin kembali ke Indonesia, persoalan baru menghadang. Yana dan rekannya, Entis, tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya perjalanan pulang.

Di Garut, keluarga pun hanya bisa menunggu dengan kecemasan.

Istri Yana, Elvia (36), kini tinggal sementara di rumah orang tuanya di Kampung Dangdeur, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong. Ia sebelumnya tinggal di Kampung Sindangwargi, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang.

Elvia harus mengurus dua anak yang masih kecil sekaligus seorang orang tua yang sudah lanjut usia. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, kabar mengenai suaminya yang terlantar di Malaysia membuat beban hidupnya semakin berat.

Saat ditemui pada Selasa, 8 September 2026, Elvia tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kondisi suaminya.

Menurut kabar yang diterimanya, kondisi fisik Yana semakin memprihatinkan. Tubuhnya semakin kurus, sementara rambutnya semakin panjang dan tidak terurus.

Namun, bagi Elvia, perubahan fisik tersebut bukan sekadar persoalan penampilan. Kondisi itu menggambarkan beratnya kehidupan yang tengah dijalani suaminya di Malaysia.

Yang paling membuatnya terpukul adalah ketika mengetahui Yana dan rekannya pernah kesulitan mendapatkan makanan.

“Yang membuat kita sedih itu, suami saya itu pernah sampai sore dengan rekannya itu belum makan karena perbekalan sudah habis. Kadang mereka mencari makanan seadanya di hutan, mencari sayur-sayuran yang didapat. Kadang mereka juga makan hanya mi instan,” ujar Elvia.

Menurutnya, selama bekerja di Malaysia, Yana dan rekannya terkadang terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Utang tersebut kemudian dibayar setelah menerima gaji.

Namun, kondisi menjadi semakin sulit ketika sisa penghasilan yang diterima tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup selama sebulan.

“Biasanya mereka suka ngutang dulu di tempat belanja di lokasi kerja dan setelah gajian baru dibayar, dipotong langsung. Tapi terkadang sisa gaji pun tak cukup untuk perbekalan hidup satu bulan di Malaysia sehingga mereka terkadang kesulitan mendapatkan makan,” katanya.

Kondisi tersebut sangat jauh dari bayangan ketika Yana berangkat. Penghasilan hingga Rp10 juta per bulan yang sebelumnya menjadi salah satu alasan untuk merantau ternyata tidak pernah diterima keluarga dalam jumlah seperti yang diharapkan.

Kiriman uang yang diterima Elvia pun relatif kecil. Dalam sebulan, terkadang hanya sekitar Rp400 ribu, pada kesempatan lain sekitar Rp700 ribu. Jumlah terbesar yang pernah diterima keluarga disebut hanya sekitar Rp1 juta.

Bagi Elvia, berapa pun uang yang dikirimkan tetap berarti. Namun, jumlah tersebut jelas jauh dari angka penghasilan yang sebelumnya dijanjikan.

Lokasi Kerja Tak Jelas, Sempat Terlantar

Persoalan lain yang membuat keluarga semakin khawatir adalah ketidakjelasan perusahaan dan lokasi tempat Yana bekerja.

Elvia mengatakan, suaminya bahkan tidak mengetahui secara pasti perusahaan tempatnya bekerja maupun wilayah perkebunan tempat mereka ditempatkan.

“Bahkan suami saya itu tidak mengetahui sebetulnya dia bekerja di daerah mana. Entah bagaimana, suami pun tidak mengetahui secara pasti di mana mereka bekerja, di perusahaan apa mereka bekerja,” ungkapnya.

Situasi semakin pelik ketika Yana dan sejumlah rekannya pernah diputus kerja.

Mereka sempat menganggur dan terlantar di Malaysia. Beruntung, menurut Elvia, saat itu ada warga Bangladesh yang membantu mencarikan pekerjaan bagi mereka.

Dari satu rombongan warga asal Kecamatan Samarang yang berangkat ke Malaysia, tercatat terdapat empat warga Garut.

Kini, dua orang di antaranya telah berhasil kembali ke Indonesia.

Salah seorang dipulangkan karena mengalami sakit berat. Sementara seorang lainnya bisa kembali setelah keluarganya di Garut berjuang keras mengumpulkan biaya kepulangan.

Bahkan, keluarga tersebut harus menjual tanah sawah. Dari hasil penjualan itu, terkumpul sekitar Rp7 juta untuk membayar biaya kepulangan.

Kisah tersebut semakin membuat Elvia cemas.

Baginya, mendapatkan uang jutaan rupiah untuk biaya kepulangan bukan perkara mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Garut saja, ia masih harus berjuang.

Sebelumnya, Elvia sempat bekerja sebagai buruh cuci di Kecamatan Samarang. Namun setelah tinggal di rumah orang tuanya, ia tidak lagi bekerja karena harus mengurus kedua anaknya dan orang tua yang sudah lanjut usia.

“Sementara saya bagaimana bisa mencari uang sebesar itu, karena untuk biaya hidup di sini juga saya kesulitan. Saya mengurus dua orang anak yang masih kecil dan satu orang tua yang sudah jompo,” tuturnya sambil berurai air mata.

Bukan Lagi Soal Uang, Elvia Ingin Suaminya Pulang

Tangis Elvia bukan sekadar kesedihan seorang istri yang terpisah dari suaminya.

Di balik air mata itu ada kekhawatiran mengenai keselamatan Yana, sekaligus masa depan kedua anak mereka.

Setiap kabar mengenai kondisi Yana menjadi sesuatu yang ditunggu sekaligus ditakuti.

Elvia tidak lagi memikirkan berapa banyak uang yang akan dibawa suaminya ketika pulang.

Baginya, satu hal jauh lebih penting: Yana pulang dengan selamat.

Ia ingin suaminya kembali melihat wajah kedua anak mereka, kembali berkumpul dengan keluarga, dan menjalani kehidupan di kampung halaman.

Karena itu, Elvia berharap Pemerintah Kabupaten Garut, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dapat membantu proses kepulangan Yana dan Entis dari Malaysia.

Harapan itu muncul karena keluarga mengaku tidak memiliki kemampuan untuk menanggung sendiri biaya maupun proses kepulangan.

Terlebih, dugaan keberangkatan melalui jalur ilegal membuat persoalan yang dihadapi Yana dan Entis semakin kompleks.

Disnakertrans Garut Respons Cepat

Informasi mengenai warga Garut yang terlantar di Malaysia tersebut mendapat respons dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Garut.

Kepala Disnakertrans Garut, Nia Gania Karyana, meminta keluarga segera menyerahkan data warga yang bersangkutan agar persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti.

“Silakan minta surat permohonan ke Dinas Tenaga Kerja dan dengan datanya,” ujar Nia Gania melalui sambungan WhatsApp.

Pada Selasa sore, awak media juga mendapat fasilitasi dari Kepala Bidang Penempatan Kerja Disnakertrans Garut untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi Yana dan Entis.

Disnakertrans Garut merespons informasi tersebut dengan cepat dan membuka ruang untuk diagendakan pertemuan dengan para pekerja yang telah berhasil pulang beserta keluarganya.

Pertemuan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk menggali informasi secara lebih komprehensif mengenai proses keberangkatan, kondisi pekerjaan, perusahaan yang mempekerjakan mereka, hingga persoalan yang menyebabkan sejumlah warga Garut kesulitan kembali ke tanah air.

Bagi Elvia, semua proses tersebut kini bermuara pada satu harapan sederhana.

Ia hanya ingin pintu rumah kembali terbuka untuk suaminya.

Bukan membawa pulang uang jutaan rupiah seperti yang dahulu dibayangkan ketika berangkat merantau.

Melainkan pulang dalam keadaan selamat.

Sebab bagi seorang istri yang setiap hari menunggu dalam kecemasan, kepulangan seorang suami dengan selamat sudah lebih dari cukup.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Sukawargi Gagal Angkat Trofi! Putri Dihantam Pasawahan, Putra Ditekuk Lebakagung di Laga Final

Musda Golkar Garut Masih Menanti Jabar, Dua Nama Sudah Deklarasi Berebut Kursi Ketua