in

Garut Siap Rayakan Ulang Tahun Ke-211: Menyimak Makna Logo dan Keunikan Bangunan Sejarah

HUT Garut HJG

GARUTEXPO – Kabupaten Garut, yang akan memperingati ulang tahun ke-211 pada tahun 2024, mengundang semua warga untuk merayakan perjalanan panjangnya yang sarat akan sejarah dan makna. Berbagai pencapaian dan keunikan Kabupaten Garut tercermin dalam logo daerahnya, menjadi identitas khas dari daerah yang juga dijuluki sebagai Swiss Van Java.

Logo Kabupaten Garut, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pemandangan kantor pemerintahan, seragam Aparatur Sipil Negara (ASN), dan ornamen pemerintahan lainnya, memiliki makna mendalam yang mencerminkan keanekaragaman daerah ini. Sejak tahun 1981, logo ini telah menjadi ciri khas, dengan perubahan pada warna bintang dari merah menjadi kuning emas sebagai penyesuaian terhadap perkembangan situasi saat itu.

Menurut Mochamad Satria, seorang pemerhati sejarah Garut, proses pengenalan logo ini melibatkan DPRD gotong royong dari Agustus hingga November 1981. “Perubahan warna bintang juga mempengaruhi latar belakangnya, menjadi warna biru langit,” ungkap Satria.

Logo Garut tidak hanya sekadar gambar, tetapi mencakup elemen-elemen khusus yang menggambarkan Kabupaten Garut. Diantaranya adalah perisai, unsur-unsur alam, dan pita bertuliskan semboyan Tata Tengtrem Kerta Raharja. Salah satu simbol menarik dalam logo adalah jeruk berwarna oranye yang melambangkan kejayaan Jeruk Garut pada masa lalu.

Produksi Jeruk Garut yang terkenal hingga tahun 1981, tetapi mulai menurun setelah letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982, tetap menjadi simbol kekayaan alam daerah ini. “Simbol jeruk menjadi pengingat bahwa dulu Garut pernah berjaya melalui jeruk Garut,” tambah Satria.

Semboyan “Tata Tengtrem Kerta Raharja” yang tertulis di pita merah pada logo menggambarkan cita-cita masyarakat Kabupaten Garut untuk hidup aman, tertib, tentram, dan sejahtera. Berbagai elemen seperti langit biru, bintang kuning emas, gunung, sungai, gelombang laut, dan hamparan hijau tua pada perisai, semuanya memiliki makna khusus yang terkait erat dengan karakter dan keadaan tanah di Kabupaten Garut.

Beralih ke bangunan bersejarah, Babancong, yang terletak di antara Alun-Alun Garut dan Gedung Pendopo, merupakan simbol kekuasaan Bupati Garut. Dibangun pada sekitar tahun 1813 dengan gaya bangunan khas Eropa, Babancong seluas 15 meter persegi dan tinggi panggung sekitar 2 meter dulunya digunakan sebagai tempat bersantai Bupati.

Mochamad Satria menjelaskan bahwa Babancong tidak hanya berfungsi sebagai tempat kehormatan, tetapi juga menjadi saksi sejarah dengan kehilangan gamelan pada tahun 1936 yang akhirnya ditemukan di Pegadaian Bayongbong setelah penyelidikan oleh aparat keamanan setempat.

Babancong, dengan bentuk oktagon yang unik, menjadi ikon Kabupaten Garut yang telah disambangi oleh Proklamator Ir. Soekarno pada masa perjuangan melawan proklamasi Negara Pasundan. “Babancong sangat layak menjadi ikon dengan bentuknya yang unik, gabungan antara Eropa dan tradisi lokal,” ujar Satria.

Meskipun keunikan Babancong belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat Garut, Satria berharap bahwa bangunan ini dapat dipertahankan fungsinya sebagai podium upacara sehingga semakin banyak orang yang mengenal dan menghargainya sebagai bagian berharga dari sejarah Kabupaten Garut.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Koperasi MBSB dan Pegadaian Syariah Cabang Guntur Garut Teken MoU

Pj. Bupati Garut Siap Tegur Keras Jika ASN Langgar Aturan