Garutexpo.com — Perjuangan Dani Hamdani (45), Ketua RT di Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, untuk melawan tumor usus belum berakhir. Setelah menjalani operasi, Dani masih harus menjalani kemoterapi dan kontrol ke Rumah Sakit Santosa Bandung.
Pengobatan memang ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, ada satu persoalan yang kini membuat Dani kebingungan: ongkos untuk pergi berobat ke Bandung.
Setiap kali harus berangkat, Dani membutuhkan sedikitnya Rp500 ribu. Sementara kondisi kesehatannya membuat ia belum dapat kembali bekerja secara normal.
“Saya harus menjalani beberapa kali kemoterapi di Bandung karena di RSUD Garut belum ada fasilitas kemoterapi. Untuk biaya memang sudah pakai BPJS, tapi untuk ongkos ke sana saya tidak punya uang. Paling tidak sekali berangkat itu butuh uang Rp500 ribu,” ujar Dani.
Setelah operasi, Dani juga masih harus menggunakan kantong kolostomi. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya belum kembali normal.
Di tengah perjuangan tersebut, Dani masih memikirkan keluarganya. Ia memiliki dua anak yang masih kecil dan membutuhkan dirinya sebagai kepala keluarga.
“Saya punya tanggungan dua anak yang masih kecil. Jika saya belum sehat, saya tidak bisa bekerja,” katanya.
Dani pun berusaha mencari jalan agar pengobatannya tidak terhenti. Ia telah mengajukan bantuan kepada BAZNAS Kabupaten Garut dan berencana mengajukan permohonan kepada Wakil Bupati Garut.
Harapan itu kemudian mendapat titik terang. Perangkat Desa Mekarsari, Jaka, menyampaikan bahwa permohonan bantuan Dani kepada BAZNAS Garut telah dikabulkan dan bantuan tersebut sudah dapat dicairkan pada Selasa (22/9/2026).
Pemdes Ikut Turun Tangan
Kepala Desa Mekarsari, H. Dadang, mengatakan pemerintah desa telah berupaya membantu Dani sejak menjalani operasi.
Selain memberikan bantuan sesuai kemampuan desa, pihaknya juga menyediakan mobil siaga desa untuk membantu kebutuhan pengobatan Dani.
“Sejauh ini kami dari desa sudah berupaya membantu Pak Dani. Sewaktu operasi kami bantu alakadarnya untuk biaya, kemudian kami juga sudah sediakan mobil siaga desa,” ujar H. Dadang.
Pada Selasa (22/9/2026), H. Dadang kembali mendatangi Dani untuk melihat kondisi warganya secara langsung.
Ia berharap semakin banyak pihak yang peduli sehingga Dani dapat menjalani pengobatan hingga selesai.
“Mudah-mudahan ada bantuan dari berbagai pihak kepada warga kami ini supaya beliau bisa kembali sehat,” katanya.
Bagi Dani, perjuangan belum selesai. Setelah operasi, kini ia harus menghadapi kemoterapi dan perjalanan berulang ke Bandung.
Namun di balik semua itu, ada satu harapan yang terus ia pegang: sembuh, kembali bekerja, dan kembali menjalankan tanggung jawab untuk dua anaknya.
Setiap perjalanan menuju Bandung kini bukan sekadar perjalanan menuju rumah sakit. Bagi Dani, itu adalah bagian dari ikhtiar untuk mempertahankan harapan agar suatu hari bisa kembali sehat dan berkumpul bersama keluarganya.(*)

