in

Bukan Sekadar Rak Buku! Perpustakaan Garut Diserbu 250 Pengunjung per Hari, Koleksi Tembus 10 Ribu Judul

Garutexpo.com — Perpustakaan kini tak lagi sekadar tempat untuk mencari dan membaca buku. Di Kabupaten Garut, wajah perpustakaan mulai berubah menjadi ruang edukasi yang lebih interaktif. Buktinya, kunjungan masyarakat ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Garut disebut bisa mencapai sekitar 250 orang dalam sehari.

Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP. Kehadiran fasilitas baru, khususnya ruang auditorium, disebut menjadi salah satu magnet yang membuat anak-anak dan pelajar semakin antusias datang ke perpustakaan.

Pustakawan Kebudayaan Gemar Membaca Dispusip Kabupaten Garut, Ajis Muslim, S.Sos., mengatakan tingginya kunjungan tersebut menjadi bagian dari perkembangan positif budaya literasi di Kabupaten Garut.

“Kalau untuk kunjungan ke Dinas Perpustakaan, kebanyakan sekarang dari tingkat PAUD, SD, SMP. Kalau dihitung-hitung, untuk satu hari 250 orang ada,” ujar Ajis saat di konfirmasi garutexpo.com di ruang kerjanya, Rabu, 26 Agustus 2026.

Auditorium Jadi Magnet Baru

Menurut Ajis, meningkatnya ketertarikan pelajar tidak terlepas dari inovasi yang dilakukan Dispusip Garut. Salah satunya dengan menghadirkan ruang auditorium yang menyajikan berbagai materi edukasi dalam bentuk tayangan visual.

Melalui ruang tersebut, pengunjung tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga dapat menyaksikannya melalui tayangan yang dikemas lebih menarik.

“Alhamdulillah, Dinas Perpustakaan sudah mengeluarkan inovasi baru, yaitu ruang auditorium. Di sana kita bisa menyajikan seperti film-film, sehingga pengunjung bisa melihat sejarah Garut, sejarah bupati dari masa ke masa,” katanya.

Beragam materi mengenai sejarah dan budaya lokal juga mulai disajikan. Di antaranya sejarah Domba Garut serta sejarah pencak silat.

Konsep tersebut ternyata cukup menarik perhatian pengunjung usia sekolah. Anak-anak hingga pelajar SMP disebut lebih antusias ketika mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya mengandalkan buku.

“Dari anak-anak sampai SMP itu antusiasnya mau melihat ruang auditorium, mau menonton di auditorium, kemudian ada juga galeri,” ungkap Ajis.

Selain auditorium, Dispusip Garut juga menyediakan ruang galeri sebagai bagian dari fasilitas edukasi dan literasi masyarakat.

SMA Tetap Diterima, tetapi Lokus Literasi Berbeda

Untuk pelajar SMA, kunjungan tetap terbuka. Namun, menurut Ajis, sasaran penguatan literasi yang menjadi lokus Dispusip Kabupaten Garut lebih diarahkan pada jenjang PAUD, SD/MI, SMP dan sederajat, perpustakaan desa, serta taman bacaan masyarakat.

“Kalau SMA juga banyak, terutama untuk pribadi. Tapi lokus SMA itu sekarang ditangani provinsi. Jadi untuk peningkatan IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat), lokusnya di Dinas Perpustakaan itu PAUD, SD/MI sederajat, SMP, perpustakaan desa, dan taman bacaan masyarakat,” jelasnya.

Koleksi Buku Lebih dari 10 Ribu Judul

Di balik tingginya kunjungan tersebut, Dispusip Kabupaten Garut juga memiliki koleksi bacaan yang cukup besar. Jumlahnya diperkirakan telah mencapai lebih dari 10 ribu judul buku.

“Judul buku mungkin sudah 10 ribu lebih. Setiap tahun kita juga biasanya mengadakan pengadaan buku,” kata Ajis.

Namun, perkembangan teknologi turut mengubah pola penyediaan bahan bacaan. Pada 2024 hingga 2025, pengadaan buku secara langsung mulai dikurangi dan diarahkan pada penguatan koleksi buku elektronik (e-book).

Dispusip Garut pun telah mengembangkan layanan E-Bagenit yang memungkinkan masyarakat mengakses buku secara digital melalui perangkat mereka.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan mulai bergerak mengikuti perkembangan zaman. Rak-rak buku tetap menjadi bagian penting, tetapi kini dilengkapi auditorium, galeri, dan akses bacaan digital.

Dengan kunjungan yang bisa mencapai sekitar 250 orang per hari dan koleksi lebih dari 10 ribu judul, Dispusip Garut berupaya membangun wajah baru perpustakaan: bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang belajar, mengenal sejarah, menikmati budaya, dan menumbuhkan minat literasi generasi muda.

Perpustakaan tak lagi hanya menunggu pembaca datang. Kini, inovasi menjadi cara untuk membuat masyarakat—terutama anak-anak dan pelajar—ingin datang, belajar, dan kembali lagi.(*)

Ditulis oleh Kang Zey

Hari Kedua Pencarian Laka Laut Cikelet: Satu Korban Ditemukan Meninggal di Muara Kancil

BRI-OJK Gaspol! Literasi Keuangan Diperkuat, Budaya Menabung Didorong dari Pelajar hingga Pelaku UMKM