Garutexpo.com — Ketua Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Kabupaten Garut, Dedi Kurniawan, menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia bagi kemajuan daerah. Ia berharap Bupati Garut yang baru nantinya mampu menghadirkan arah pembangunan yang tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, moral, dan spiritual masyarakat.
Menurut Dedi, selama ini pembangunan di banyak daerah, termasuk Garut, cenderung berat sebelah pada sektor infrastruktur. Padahal, pembangunan manusia justru menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang berdaya saing dan beradab.
“Pembangunan infrastruktur memang penting, karena dapat meningkatkan aksesibilitas, mobilitas, dan produktivitas masyarakat. Namun, tanpa diiringi dengan pembangunan manusia yang baik, infrastruktur itu tidak akan termanfaatkan secara optimal,” ujar Dedi kepada Garutexpo.com, Senin, 3 Oktober 2025.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan manusia mencakup berbagai aspek seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, akhlak, dan karakter. Semua aspek tersebut harus berjalan beriringan agar pembangunan dapat berkelanjutan dan inklusif.
“Antara pembangunan fisik dan pembangunan manusia tidak boleh timpang. Kalau jalan sudah mulus, kantor pemerintahan megah, tapi masyarakatnya moralnya rusak, gemar judi online, miras, dan kondisi keamanan tidak stabil, itu bukan kemajuan sejati,” tegasnya.
Dedi menyoroti bahwa Kabupaten Garut masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal pembangunan manusia. Berdasarkan data terakhir, Garut menempati urutan ke-25 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
“Sejak era Bupati Agus Supriadi sampai sekarang, Garut masih termasuk daerah tertinggal. Ini akibat miss orientasi pembangunan kita. Pembangunan manusia belum menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan roadmap baru pembangunan daerah yang berimbang dan terukur antara pembangunan fisik serta pembangunan manusia. Pemerintah daerah juga diminta transparan dalam penggunaan anggaran, khususnya untuk sektor pendidikan dan kesehatan.
“Coba kita sama-sama lihat, berapa persen APBD Garut yang dialokasikan untuk pendidikan. Kalau masih minim, maka jangan heran kalau IPM kita stagnan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan sejumlah alasan mengapa keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusia sangat penting. Pertama, pembangunan yang berimbang dapat meningkatkan produktivitas masyarakat, karena manusia yang cerdas dan sehat akan mampu memanfaatkan infrastruktur dengan maksimal. Kedua, dapat mengurangi kesenjangan sosial, karena masyarakat yang berdaya akan lebih mudah mengakses manfaat pembangunan. Ketiga, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
“Pembangunan manusia memang tidak bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Ini investasi jangka panjang yang buahnya akan dirasakan generasi berikutnya. Tapi inilah pembangunan yang sesungguhnya, pembangunan yang melahirkan peradaban dan sejarah panjang,” ungkap Dedi.
Ia juga mengkritik sebagian politisi yang lebih mengutamakan pembangunan fisik karena dianggap lebih mudah dijadikan alat pencitraan politik dibanding pembangunan manusia yang bersifat fundamental.
“Politisi instan lebih senang bangun jembatan atau trotoar karena cepat terlihat. Padahal, membangun manusia itu membangun masa depan bangsa. Kalau manusianya maju, semua sektor akan ikut maju,” ujarnya.
Dedi menutup dengan menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, DPRD, tokoh masyarakat, dan lembaga sosial—bersatu mendorong arah pembangunan Garut yang lebih holistik.
“Kami dari Parmusi berharap Bupati baru nanti bisa membuat kebijakan yang berpihak pada keseimbangan pembangunan fisik dan mental-spiritual. Karena inilah kunci agar Garut tidak hanya maju secara infrastruktur, tapi juga maju secara moral dan peradaban,” paparnya.(*)


