in

Kepala SMAN 1 Garut Buka Suara Soal 18 Peserta Gagal Lolos Sekolah Maung, Meski Sempat Masuk Kuota

Garutexpo.com – Polemik hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Garut sebagai sekolah percontohan Program Sekolah Maung Jawa Barat mendapat perhatian dari sejumlah orang tua calon siswa. Menanggapi hal tersebut, Kepala SMAN 1 Garut, Dra. Sri Mulyani, M.Pd., memberikan penjelasan terkait mekanisme seleksi yang diterapkan pada program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut.

Menurut Sri Mulyani, SMAN 1 Garut ditunjuk sebagai satu-satunya SMA di Kabupaten Garut yang menjalankan Program Sekolah Maung, sebuah program yang digagas Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), untuk mencetak generasi unggul melalui sistem seleksi berbasis prestasi.

“Setiap kabupaten hanya dipilih satu SMA dan satu SMK sebagai Sekolah Maung. Untuk Kabupaten Garut, SMA yang ditunjuk adalah SMAN 1 Garut. Program ini baru pertama kali dilaksanakan tahun ini,” ujar Sri Mulyani saat di konfirmasi Garutexpo.com di ruang kerjanya, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan, sistem penerimaan siswa di Sekolah Maung berbeda dengan sekolah reguler. Jika sekolah reguler membuka beberapa jalur seperti domisili, afirmasi, prestasi, mutasi, maupun anak guru, maka seluruh kuota Sekolah Maung diisi melalui jalur prestasi.

“Kalau sekolah reguler ada empat jalur penerimaan. Sedangkan Sekolah Maung seratus persen melalui jalur prestasi,” katanya.

*Kuota 384 Siswa, Semua Melalui Jalur Prestasi*

SMAN 1 Garut tahun ini menerima sebanyak 384 siswa yang terbagi dalam 12 rombongan belajar (rombel), masing-masing berisi 32 siswa.

Dari total kuota tersebut, penerimaan dibagi ke beberapa kategori prestasi, salah satunya jalur Potensi Akademik atau Calon Berbakat Istimewa (CIBI).

Sri Mulyani menjelaskan, peserta yang masuk kategori ini harus memiliki kemampuan akademik tinggi, termasuk nilai IQ minimal 130. Selain itu, nilai rapor dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga menjadi komponen penilaian.

“Untuk jalur potensi akademik ini kuotanya sekitar 10 persen dari total penerimaan. Seleksinya berdasarkan IQ, nilai rapor, dan TKA yang kemudian diranking sesuai kuota yang tersedia,” jelasnya.

Selain itu terdapat pula jalur prestasi akademik yang terdiri dari seleksi berdasarkan nilai rapor dan kejuaraan akademik.

*Masuk Ranking Sementara Belum Tentu Lolos*

Sri Mulyani menegaskan bahwa salah satu hal yang banyak disalahpahami masyarakat adalah status “lolos sementara” yang muncul pada tahap awal seleksi.

Menurutnya, khusus jalur prestasi non-akademik, peserta yang masuk kuota sementara masih harus mengikuti tahapan uji kompetensi (ujikom) sebelum dinyatakan lolos secara final.

“Yang diumumkan pada awal itu adalah klasemen sementara, bukan hasil akhir. Untuk jalur non-akademik masih ada tahapan uji kompetensi yang wajib dilalui,” ujarnya.

Ia mencontohkan peserta yang mendaftar menggunakan sertifikat tahfiz Al-Qur’an. Meskipun memiliki sertifikat sesuai persyaratan dan nilai akademik yang tinggi, peserta tetap harus membuktikan kemampuannya melalui ujian kompetensi.

“Misalnya memiliki sertifikat hafalan tiga juz. Ketika diuji oleh tim independen dari LPTQ ternyata tidak mampu menunjukkan kemampuan sesuai sertifikatnya, maka hasil ujikom bisa dinyatakan tidak layak,” katanya.

*Tim Penilai Independen*

Sri Mulyani menegaskan bahwa proses uji kompetensi tidak dilakukan sembarangan. SMAN 1 Garut melibatkan tim penilai independen sesuai bidang prestasi masing-masing agar hasil seleksi objektif.

“Hasil ujikom hanya ada dua kategori, yaitu layak dan tidak layak. Penilaian dilakukan oleh tim yang kompeten dan independen, bukan oleh sekolah semata,” jelasnya.

Berdasarkan hasil ujikom tersebut, terdapat 18 peserta dari total 77 peserta jalur non-akademik yang akhirnya dinyatakan tidak memenuhi syarat.

“Dari hasil ujikom ada 18 peserta yang tidak lolos karena dinilai tidak layak,” katanya.

*Soal Nilai Berubah di Sistem*

Terkait keluhan sejumlah orang tua mengenai perubahan nilai dan posisi ranking yang muncul pada sistem SPMB, Sri Mulyani mengaku pihak sekolah tidak memiliki kewenangan terhadap sistem tersebut.

“Kalau urusan perubahan nilai di sistem, itu bukan kewenangan sekolah. Kami hanya menjalankan seluruh tahapan sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hasil resmi baru diumumkan setelah seluruh tahapan seleksi selesai dilaksanakan, termasuk proses uji kompetensi.

*Peserta yang Tidak Lolos Dialihkan ke Sekolah Reguler*

Meski tidak lolos di Sekolah Maung, Sri Mulyani memastikan sebagian besar peserta tetap memiliki peluang besar diterima di sekolah lain melalui jalur reguler.

Pihak sekolah bahkan melakukan pengecekan terhadap 18 peserta yang tidak lolos dan menemukan bahwa mereka telah mendaftar melalui jalur PCMB/SPMB reguler di sekolah lain.

“Saya cek satu per satu. Ternyata semuanya sudah mendaftar ke sekolah reguler seperti SMAN 11 Garut, SMAN 6 Garut, dan sekolah lainnya,” ungkapnya.

Bahkan, kata dia, sejumlah peserta yang gagal masuk Sekolah Maung justru memperoleh peringkat yang sangat baik pada seleksi sekolah reguler.

“Ranking mereka di sekolah reguler cukup tinggi. Kalau posisinya sudah di atas, insya Allah peluang diterimanya sangat besar. Jadi anak-anak ini tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan di SMA negeri,” tuturnya.

Sri Mulyani berharap masyarakat dapat memahami bahwa seluruh proses penerimaan di SMAN 1 Garut telah dilaksanakan sesuai petunjuk teknis yang berlaku dan hasil akhir ditentukan berdasarkan seluruh tahapan seleksi, bukan hanya hasil ranking sementara yang muncul pada sistem.

Ditulis oleh Kang Zey

Diduga Marak ASN Gunakan Fake GPS untuk Absen, Mantra Desak Pemkab Garut Bertindak Tegas

Kepala SMAN 1 Garut Bantah Keras Isu Masuk Sekolah Bayar Rp40 Juta