Garutexpo.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan signifikan dengan menyentuh level Rp17.310 per USD pada Kamis siang (23/04/2026 WIB). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat dan pelaku ekonomi, meskipun pemerintah menilai situasi tersebut masih dipengaruhi faktor global.
Berdasarkan informasi yang beredar, termasuk laporan dari Liputan 6, pelemahan rupiah menjadi sorotan publik. Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah tidak terlepas dari dinamika ekonomi global.
Menurut Airlangga, pemerintah tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar, namun tetap melakukan pemantauan secara intensif. Ia juga menekankan bahwa stabilitas rupiah merupakan bagian dari tugas Bank Indonesia.
“Kami monitor saja, karena ini kan enggak bisa setiap hari reaktif. Kami monitor saja, dan itu BI tugasnya menjaga,” ujar Airlangga.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2026, asumsi nilai tukar rupiah dipatok di angka Rp16.500 per dolar AS. Dengan kondisi saat ini yang sudah melampaui asumsi tersebut, pemerintah diharapkan segera menyiapkan langkah antisipatif.
Sementara itu, pengamat ekonomi, Doddy Ariefianto, menilai bahwa pelemahan rupiah hingga menyentuh angka Rp17.310 masih belum bisa langsung disimpulkan sebagai krisis ekonomi. Ia menyebut fenomena ini kemungkinan bersifat sementara akibat tekanan eksternal.
Doddy menjelaskan, gejolak geopolitik global, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran serta kegagalan sejumlah perundingan internasional, turut memberi tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.
“Angka Rp17.310 yang disentuh hari ini jangan langsung digeneralisasi sebagai fenomena struktural. Ini bisa jadi hanya guncangan sesaat dari faktor eksternal,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak lengah. Stabilitas rupiah dinilai penting dijaga, mengingat tidak mungkin Bank Indonesia terus-menerus mengandalkan cadangan devisa untuk intervensi pasar.
Doddy juga menekankan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membaca kondisi ekonomi nasional.
“Tim ekonomi pemerintah harus melihat secara holistik. Jangan hanya fokus pada satu indikator seperti rupiah, karena ekonomi itu multidimensi,” pungkasnya.
Dengan kondisi global yang masih dinamis, pemerintah diharapkan mampu menjaga keseimbangan kebijakan agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.( Acep)


